Search

Menulis Itu Perlu Bakat dan Pendidikan Tinggi?

Saya bisa menulis. Sepertinya itu kalimat yang sering saya pakai sebagai patokan dalam otak saya. Apalagi dalam keadaan stuck seperti ini, dimana saya tidak tahu harus menulis apa. Yang saya lakukan seharian ini hanya memelototi layar laptop yang putih bersih, dan mencari-cari apakah ada sedikit ide yang iseng mampir disana. Akhirnya, saat terjebak situasi seperti ini, satu kalimat pesimislah yang muncul, "apakah saya bisa menulis?"

Setelah itu, berbagai pikiran sempit mulai ikut menghampiri. Saya bukan jurnalis, bukan juga jebolan universitas ternama. Artikel saya belum pernah dimuat di media. Hanya sekali, dan walaupun membanggakan, toh itu belum cukup untuk menyebut diri saya penulis. Apalagi saat membaca tulisan orang lain yang sangat bagus, intelek, renyah, dan mudah dicerna. Saya semakin down, dan terpuruk saja...

Ahamdulilah akhirnya saya menemukan jawaban pasti setelah kembali  merenung dan berfikir lebih dalam (plus semedi dibawah pohon sambil nonton anak-anak main sepakbola). Semua orang itu sama, tinggal bagaimana diri mereka mengembangkannya. Menulis, tidaklah serumit yang saya pikirkan. Jika saya ingin menulis, ya menulis saja. Saya yakin semua pasti akan mengalir dengan sendirinya.

Emha Ainun Najib, seorang penulis dan budayawan, ternyata kuliahnya dulu tidak selesai. Ajip Rosjidi, penulis pentolan dan seorang sastrawan, ternyata bukanlah seorang sarjana, magister atau doktor. Ajib Rosjidi hanya lulusan SMA. Begitu juga dengan Arswendo Atmowiloto, ternyata bukan seorang sarjana.

Fakta ini semakin memantapkan saya untuk kembali menulis. Menulis tidak membutuhkan bakat atau pendidikan tinggi. Menulis itu hanya terletak pada pengetahuan dan pengalaman. Semakin sering kita menulis, semakin sering kita membaca, maka kemampuan menulis kita akan semakin terasah. Saya coba membaca diary saya sejak SMP. Perubahannya cukup kontras sekali. Ada perbedaan di tulisannya, kosakatanya, alur pikirannya, dan lain-lain. Hanya 5 hal yang harus kita lakukan, Menulis, menulis, menulis, menulis dan menulis, maka kualitas tulisan kita akan berkembang dengan sendirinya.

Dan satu hal penting yang selalu saya patri didalam pikiran saya. Blog ini saya yang punya, saya yang menulis, dan saya yang membaca. Lalu mengapa menulis masih saja terasa sulit? Saya yakin kita semua pasti bisa. Seperti pepatah baru yang banyak diungkapkan orang-orang:



"Menulis itu semudah berbicara. Jika kita bisa bicara, tentu kita pasti bisa menulis"


Jadi, MARI MENULIS! :)

NB: Tulisan ini ditulis oleh orang yang masih belajar menulis. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Saya tunggu kritik dan sarannya.

2 komentar:

jacob

bolehkah saya salin ke notes facebook? sudah saya beri link ke blog ini dan juga nama pengarangnya :)

terimakasih :)

Andrea Kugy

silahkan.. :))

Post a Comment