Search

Sekilas Tentang Desain Grafis atau Desain Komunikasi Visual

Kita sering terjebak dengan kata visual. Dilihat dari namanya saja, ‘Komunikasi’ visual. Yang bisa diartikan komunikasi yang efektif dapat melibatkan lebih dari sekedar indera visual. Memang indera yang paling sensitive dengan bahasa visual (pictorial) adalah mata. Tapi jika kita membangkitkan kepekaan, pictorial itu bisa didengar (musik/bunyi), dicium (bau), dijilat (citarasa), bahkan disentuh (tekstur) dan diolah menjadi satu dalam perasaan kita. Jadi desain visual bisa bersumber dari mana saja, karena visual merupakan bagian dari keseluruhan sensing kita.
Bagi beberapa orang, penerapan pelajaran computer adalah salah satu pendidikan dasar desain. Ini yang dimaksud istilah Cybernetic, dimana terjadi hubungan komunikasi timbal balik antara manusia dengan alat. Padahal, kitalah yang harus jeli menjalankan alat itu, bukan sebaliknya.
Jika basic design dilakukan secara manual, kita akan lebih terlatih mengoptimalkan sense, mind,dan intuisi, yang menimbulkan kepekaan lebih. Memang komputer menawarkan banyak pilihan variatif, tapi tanpa kepekaan, mustahil bisa memilih dan mendesain dengan baik.
Desainer grafis yang ideal selayaknya mempunyai personalitas yang kuat, kaya ide yang lair dari akal, sadar, dan mau mengikuti perubahan budaya; menghargai waktu, energi dan biaya yang terbuang; memiliki tanggung jawab yang optimal atas profesinya, berpikir integrated dan mampu bekerja sama dengan pihak manapun.
I begin to worry about what we designers, who are very skillful and have powerful tools at our disposal, are doing in the world – what role are we playing – making filthy oil companies look ‘clean’, making car brochures higher quality than the car, making the spaghetti sauce look like it’s been made by grandma… Is all that okay, or just the level to which design and many other professions have sunk?” – Tibor Kalman

0 komentar:

Post a Comment