Search

Bintang Hidup (Bag 1)

Aku menarik nafas panjang sambil menatap bintang-bintang yang bercahaya itu. Bintang-bintang itu mulai bermunculan satu-persatu, seperti tak ada yang mau ketinggalan ikut menghiasi malam.

Malam bagaikan sebuah kertas hitam, yang membiarkan siapapun untuk mengisinya. Entah bulan, entah bintang-bintang, atau juga kembang api yang berwarna-warni itu. Malam hanya pasrah akan nasibnya sebagai malam. Bahkan terkadang, tak satupun dari cahaya-cahaya cantik itu mengisinya, melainkan gumpalan-gumpalan awan hitam yang kelam.
Dan malam ini, seperti malam-malam lainnya. Aku duduk diteras dengan secangkir kopi hangat sambil memetik gitar. Benar-benar suasana paling romantis bukan?

Bintang-bintang itu indah. Dan hidup… Menurutku merekalah yang membuat malam begitu cantik seperti ini. Besar, kecil, semua bintang itu tentu punya arti. Kadang aku sering bertanya-tanya pada diriku sendiri, Mengapa kemunculan mereka tak selalu sama tiap malam? Mengapa mereka selalu berubah-ubah? Mengapa mereka menjadi paling bersinar seolah menantang semua yang ada di dunia? Atau juga mengapa mereka bersembunyi seolah malu akan semua mata yang tertuju padanya?… Bintang tentu juga punya hati, punya rasa, punya keinginan…

Begitulah aku melihat bintang-bintang. Mungkin salah satu dari bintang itu adalah aku. Tapi entah yang mana, aku tak tahu. Seperti orang-orang melihatku. Aku cuma gadis biasa seperti gadis-gadis lainnya. Tak penting, tak terlihat… Tak ada satupun dariku yang terlihat lebih dari orang lain. Aku biasa, aku sama… Dan aku punya hati.
Mungkin perasaan itulah yang membuatku suka pada bintang. Perasaan sama-sama membutuhkan perhatian orang lain. Tapi entah sejak kapan perasaan itu muncul. Aku sudah lupa. Atau bahkan sengaja melupakannya. Aku tak mau mengingat masa laluku. Aku hanya ingin menatap jauh kedepan. Kearah bintang…

“Satu hal yang yang aku suka dalam hidup, adalah bintang. Jika aku sedang terpuruk menikmati kekalahanku. Saat aku merasa aku tak punya harapan lagi. Bintang itu seakan berbicara, memelukku, dan memberikan sinarnya hanya untukku. Seolah dia katakan, bahwa masih ada cahaya di ujung sana. Jalanku tak berhenti sampai disini.” Aku masih mengingat kalimat itu dengan jelas. Aku juga masih mengingat orang yang mengatakannya. Wajahnya memang sudah tak begitu jelas di ingatanku, tapi setiap gerakan, ucapan, bahkan nafasnya seperti baru saja kurasakan sedetik yang lalu. “Begitukah?” Tanyaku. Ia mengangguk dan menunjuk bintang yang paling terang.
“Kamu lihat bintang itu? Indah bukan? Dia menunjukkan bahwa masih ada bintang yang lebih terang. Masih ada cahaya untukku.” Dia menatapku dalam-dalam, “ Ini pertama kalinya bintang itu muncul. Tau kenapa? Karena itu kamu. Bintang itu muncul, saat aku mengenalmu. Kamu udah membuatku hidup, dengan cahayamu…”

Aku tersenyum kecut mengingatnya. Rayuan kuno, tapi jujur saja memang senjata yang cukup ampuh untuk meluluhkanku. Kadang aku masih bertanya-tanya, apakah aku masih begitu berarti baginya? Apakah aku masih tetap bercahaya untuknya?

Aku selalu bernyanyi
Lagu yang engkau ciptakan, yang kau nyanyikan
Dan aku selalu ikuti
Semua cerita tentangmu, hari-harimu…


Aku menyanyikan lagu Bintang Hidupku-nya Ipank itu lirih. Soundtrack salah satu drama tragis yang pernah aku alami. Aku baru sadar, kegemaranku menyanyikan lagu itu dan menjadikannya lagu favoritku bersamaan dengan kegemaranku terhadap bintang. Hah, memang keduanya mengingatkanku pada satu sosok yang sama… Sosok yang saat ini aku tak tahu entah dimana.

Kau jadi inspirasiku, semangat hidup
Dikala aku sedih, dikala aku senang
Saat sendiri dan kesepian
Kau bintang dihatiku...


Bintang tak selalu ada diatas sana. Begitu cepatnya malam berganti pagi, dan aku tak bisa melihat bintang itu lagi. Dunia memang terus berputar, tapi apa secepat ini dia datang dan pergi begitu saja? Datang dengan membawa begitu banyak perubahan dan teori tentang bintang, jazz, angin di pantai, dan Coldplay… Lalu pergi tanpa jejak, tanpa ucapan selamat tinggal atau semacamnya.

“Kita tak akan pernah bisa bersama. Kau juga tahu itu… aku punya hidup, begitupun kamu. Jalan kita benar-benar berbeda.” Ujarnya suatu malam, dibawah saksi para bintang. Aku menatapnya tak percaya.
“Begitu mudah kamu mengatakannya?”
“Dia tak akan melepaskanku. Kau juga tak akan begitu saja lepas dari cowokmu kan? Kita sama! Yang kita jalani ini salah.”
“Kau tahu ini salah, tapi kau yang memulainya lebih dulu! Bukan aku… Jadi jangan memaksaku untuk berhenti begitu saja!” Sahutku marah, “Kamu bisa punya dua wajah. Satu kau tunjukkan didepanku, dan satu lagi didepannya. Tapi aku tak bisa! Aku tak bisa menjadi naif…”

0 komentar:

Post a Comment